Pengabdian Masyarakat

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PENGRAJIN MINYAK DAUN CENGKEH

(Tim UMBY, Ketua : Ch. Lilis Suryani)

*Program Vocer Multi Tahun Depdiknas Tahun 2006-2007

**Program IbM Depdiknas Tahun 2009

Di Indonesia banyak sekali ditemukan tanaman yang banyak mengandung minyak atsiri. Tanaman tersebut antara lain nilam, cengkeh, sereh, kenanga, kayu putih,  cendana, akar wangi, lengkuas, jahe dan sebagainya. Minyak atsiri adalah minyak yang bersifat mudah menguap, terdiri dari campuran zat-zat yang mudah menguap dengan komposisi dan titik didih yang berbeda (Guenther, 1987). Diantara sekian banyak jenis minyak atsiri tersebut minyak cengkeh (clove oil) dan minyak nilam (patchouly oil) merupakan komoditi yang mempunyai prospek cerah sebagai komoditas ekspor non migas.

Salah satu jenis minyak atsiri diproduksi di Indonesia adalah minyak daun cengkeh. Berdasarkan data pada tahun 2008 di Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulonprogo  terdapat 20  pengrajin penyulingan minyak atsiri yang masih aktif dan  tergabung dalam Asosiasi Pengrajin Minyak Atsiri Kecamatan Samigaluh. Namun tidak semua pengrajin tersebut berproduksi dengan kontinu dan proses penyulingannya juga yang  masih tradisional sehingga  kualitas hasil masih  rendah serta harga jualnya juga rendah. Rendemen yang dihasilkan dari penyulingan minyak cengkeh juga masih rendah yaitu kurang dari 2,5%, warnanya coklat kehitaman serta terdapat endapan dan kadar eugenolnya juga rendah.

Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa pada tahun 2008 di wilayah Kecamatan Samigaluh masih terdapat sekitar 471,4 ha kebun cengkeh dengan kurang lebih 58.924 batang pohon cengkeh dengan produksi bunga cengkeh mencapai 589 ton.. Produksi minyak daun cengkeh pada tahun 2008 dari sekitar 20 pengrajin mencapai 48 ton.  Berdasarkan data tersebut maka rata-rata produksi tiap pengrajn mencapai 2,4 ton atau berpendapatan sekitar 60 juta rupiah per tahun pada harga minyak daun cengkeh Rp. 25.000,00 per kg. Namun secara riil para pengrajin masih belum sejahtera, bahkan masih banyak yang miskin. Hal ini antara lain karena proses produksi yang belum efisien, kualitas produk yang masih rendah, serta manajemen keuangan dan manajemen produksi yang masih belum ada. Oleh karena itu perlu adanya pemberdayaan para pengrajin melalui perbaikan kualitas produksi maupun perbaikan proses produksi agar dapat memperbaiki kesejahteraannya.

Melalui bantuan Program VMT DIKTI DEPDIKNAS tahun 2005-2007, 2 UKM yaitu Perusahaan penyulingan Minyak Atsiri Surya Wulan dan Gunung Mas telah berhasil meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi melalui beberapa tahap perbaikan proses yaitu a). penggantian tipe alat dari tipe langsung menjadi tipe uap dengan bahan stainless steel, b)  perbaikan cara proses dan penangganan bahan, c). perbaikan administrasi (Suryani dkk., 2007).  Namun alat dengan bahan baku stainless steel sangat mahal apalagi pada kondisi perekonomian saat ini, semua harga barang naik sehingga pengrajin bahkan tidak mampu membelinya, karena harga semakin tidak terjangkau. Oleh karena itu  sampai saat ini hampir seluruh hasil penyulingan pengrajin minyak daun cengkeh di Kecamatan Samigaluh mempunyai kualitas yang rendah kecuali 2 UKM yang telah dibina. Hal ini mengakibatkan posisi tawar harga para pengrajin tetap rendah.

Oleh karena harga alat stainless steel sangat mahal maka perlu dicari alternatif lain untuk meningkatkan kualitas hasil penyulingan para pengrajin sehingga dapat meningkatkan nilai jualnya. Beberapa alternatif penerapan iptek untuk peningkatan kualitas hasil telah diteliti.

  1. Pemurnian minyak daun cengkeh. Hasil penelitian Weniati dan Suryani (2007) menunjukkan bahwa pemurnian minyak daun cengkeh dengan menggunakan clay aktif   dan asam tartarat  dapat meningkatkan kualitas minyak daun cengkeh. Clay yang telah diaktivasi mempunyai kemampuan untuk membentuk flokulan sehingga mampu mengabsorbsi kotoran dalam minyak atsiri. Sedangkan asam tartarat sebagai sequestrant dan chelating agent mempunyai kemampuan untuk mengikat besi penyebab pengkaratan yang mengakibatkan warna coklat kehitaman dalam minyak daun cengkeh.
  2. Pengendalian proses produksi yang tepat. Hasil pengamatan terhadap kualitas produksi  pengrajin minyak daun cengkeh menunjukkan bahwa dengan peralatan yang sama yaitu tipe penyuling air dan uap dengan alat berbahan baku besi dapat menghasilkan kualitas minyak daun cengkeh yang relatif baik jika pengendalian proses produksi dan penanganan bahan baku dilakukan dengan tepat (Suryani dkk., 2006). Menurut Rusli (1993) jika proses penyulingan dilakukan dengan teknologi yang tepat akan diperoleh rendemen antara 3-5%.
  3. Perbaikan  kondensor dan proses kondensasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa proses terjadinya pengkaratan lebih banyak terjadi pada saat proses kondensasi uap minyak daun cengkeh yang tercampur dengan air. Hal ini terbukti dengan penggantian pipa kondensor dari besi dengan pipa aluminium juga dapat menghasilkan minyak daun cengkeh berkualitas baik (Suryani dan Setyowati, 2007).
  4. Manajemen keuangan dan produksi. Selain hal-hal tersebut di atas untuk dapat meningkatkan kesejahteraan pengrajin maka perlu pula diberikan pengetahuan tentang manajemen keuangan usaha. Hal ini karena berdasarkan pengamatan di lapangan diketahui bahwa sebagian besar pengrajin masih hidup dalam kondisi tidak berkecukupan. Hal ini tidak sepadan dengan pendapatan yang diperoleh dari usaha penyulingan minyak atsiri. Diduga kondisi ini disebabkan pengrajin belum memahami manajemen usaha dan produksi sehingga banyak yang berhutang modal usaha ke pihak rentenir (sistem ijon) sebelum hasil produksinya diperoleh. Untuk pengembalian hutang kebanyakan pengrajin mengembalikan dalam bentuk minyak daun cengkeh, hal ini juga menyebabkan posisi tawar nilai jual minyak pengrajin juga rendah. Jika pengrajin mengetahui manajemen keuangan dan produksi yang benar maka keuangan usaha akan lebih baik serta modal usaha tidak akan digunakan untuk biaya hidup lainnya.